inspirasi hidup
Posted by Bang Doelah |  Tagged as:
::
Dampingilah Aku Selamanya.. ::
Di sebuah
rumah sederhana yang asri tinggal sepasang suami istri yang sudah memasuki usia
senja. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki
kehidupan sendiri yang mapan. Sang suami merupakan seorang pensiunan sedangkan
istrinya seorang ibu rumah tangga.
Suami istri
ini lebih memilih untuk tetap
tinggal dirumah mereka menolak ketika putra-putri mereka menawarkan untuk ikut
pindah bersama mereka. Jadilah mereka, sepasang suami istri yang hampir renta
itu menghabiskan waktu mereka yang tersisa dirumah yang telah menjadi saksi
berjuta peristiwa dalam keluarga itu. Suatu senja ba’da Isya disebuah mesjid
tak jauh dari rumah mereka, sang istri tidak menemukan sandal yang tadi
dikenakannya kemesjid tadi. Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri“Kenapa
Bu?” Istrinya menoleh sambil menjawab “Sandal Ibu tidak ketemu Pa”. “Ya udah
pakai ini saja” kata suaminya sambil menyodorkan sandal yang dipakainya. walau
agak ragu sang istri tetap memakai sandal itu dengan berat hati. Menuruti
perkataan suaminya adalah kebiasaannya. Jarang sekali ia membantah apa yang
dikatakan oleh sang suami.
Mengerti kegundahan istrinya, sang suami
mengeratkan genggaman pada tangan istrinya.
“Bagaimanapun usahaku untuk berterimakasih pada
kaki istriku yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan
pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya. Kaki yang selalu berlari
kecil membukakan pintu untuk-ku saat aku pulang, kaki yang telah mengantar
anak-anakku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai
tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”.
Sang istri memandang suaminya sambil tersenyum
dengan tulus dan merekapun mengarahkan langkah menuju rumah tempat bahagia
bersama….Karena usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya,
sang istri mulai mangalami gangguan penglihatan. Saat ia kesulitan merapikan
kukunya, sang suami dengan lembut mengambil gunting kuku dari tangan istrinya.
Jari-jari yang mulai keriput itu dalam genggamannya
mulai dirapikan dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan
lembut dan bergumam “Terimakasih”.
“Tidak, Ibu yang terimakasih sama Bapak, telah
membantu memotong kuku Ibu” tukas sang istri tersipu malu. “Terimakasih untuk
semua pekerjaan luar biasa yang belum tentu sanggup aku lakukan. Aku takjub
betapa luar biasanya Ibu. Aku tau semua takkan terbalas sampai kapanpun” kata
suaminya tulus.
Dua titik bening menggantung disudut mata sang
istri “Bapak kok bicara begitu?
Ibu senang atas semuanya Pa, apa yang telah kita
lalui bersama adalah luar biasa. Ibu selalu bersyukur atas semua yang
dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk. Semuanya dapat
kita hadapi bersama. Hari Jum’at yang cerah setelah beberapa hari hujan. Siang
itu sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at, Setelah berpamitan pada sang istri, ia
menoleh sekali lagi pada sang istri menatap tepat pada matanya sebelum akhirnya
melangkah pergi. Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang istri
hingga saat beberapa orang mengetuk pintu membawa kabar yang tak pernah
diduganya.
Ternyata
siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. Ia
telah pulang menghadap sang penciptanya ketika sedang menjalankan ibadah Shalat
Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tahyat terakhir. Masih dalam posisi duduk
sempurna dengan telunjuk kearah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.
“Subhanallah sungguh akhir perjalanan yang indah”
gumam para jama’ah setelah menyadari kalau dia telah tiada. Sang istri
terbayang tatapan terakhir suaminya saat mau berangkat kemesjid.
Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu
sebagai tanda perpisahan pengganti ucapan selamat tinggal. Ataukah suaminya
khawatir meninggalkannya sendiri didunia ini. Ada gundah menggelayut dihati
sang istri. Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya, Tapi kehilangan
suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun cukup membuatnya
terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun keikhlasan dihatinya yang bisa
menghambat perjalanan sang suami menghadap Sang Khalik.
Dalam do’a dia selalu memohon kekuatan agar dapat
bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan pada tempat yang layak. Tak
lama setelah kepergian suaminya, sang istri bermimpi bertemu dengan suaminya.
Dengan wajah yang cerah sang suami menghampiri istrinya dan menyisir rambut
sang istri dengan lembut. “Apa yang Bapak lakukan?’ tanya istrinya senang
bercampur bingung.
“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan
perjalanan panjang. Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan
didunia berakhir, Bapak selalu butuh Ibu. Saat disuruh memilih pendamping Bapak
bingung, kemudian bilang pendampingnya tertinggal, Bapakpun mohon izin untuk
menjemput Ibu.”
Istrinya menangis sebelum akhirnya berkata “Ibu
ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong kalau Ibu takut sekali
tinggal sendiri. Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi dan untuk
selamanya tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan. Sang istri mengakhiri
tangisannya dan menggantinya dengan senyuman. Senyuman indah dalam tidur
panjang selamanya…..
by: wahyudianto
wahyoe kesuma
.
0 komentar: